Senin, 12 September 2011

Pencipta Model Chesebro


Model Chesebro, Cragan, dan McCullough
Pencipta dan Sejarah Teori
Model Chesebro, Cragan, dan McCullough merupakan model yang sama dengan penemunya, yaitu James Chesebro, John Cragan, dan Patricia McCullough.

Teori ini merupakan hasil dari studi lapangan yang dilakukan oleh ketiga penemunya di Minessota tentang gerakan revolusioner kaum homoseksual.
Awal dari adanya penelitian yang dilakukan ketiganya karena pada tahun 1960-an di Amerika muncul gerakan emansipasi wanita yang radikal, tujuannya untuk menentang masyarakat yang didominasi oleh kaum pria. Gerakan radikal ini merupakan pendorong dari gerakan radikal yang dilakukan oleh kelompok sesudahnya. Misalnya saja pada tahun 1978, dunia dikejutkan dengan terjadinya peristiwa bunuh diri masal yang dilakukan oleh 900 orang anggota Kuil Rakyat dari pendeta Jimmy Jones. Komunikasi kelompok digunakan untuk mempengaruhi tindakan tersebut.

Asumsi Dasar dan Uraian Teori
Asumsi dasar yang ada dari teori ini adalah adanya empat tahap perkembangan dari kelompok penyadar, yaitu :
a.Kesadaran diri akan identitas baru, dalam kesadaran akan suatu identitas baru diambil contoh kelompok kaum homoseksual; anggota-anggota yang berkumpul dalam suatu kelompok terdiri dari karakteristik yang mirip sebagai dasar pembentukkan kelompok. Karakteristik yang mirip ini akan menciptakan sebuah komunikasi yang bergairah karena adanya kesamaan cerita antara anggota yang satu dengan yang lain, seperti perasaan dimana anggota-anggota dalam kelompok tersebut memiliki pemikiran yang sama sehingga cenderung merasa dihargai.

b.Identitas kelompok melalui polarisasi, jika pada tahapan pertama dibicarakan kesamaan apa yang dirasakan oleh anggota-anggota dari kelompok homoseksual, maka pada tahap ini terjadi sebaliknya. Akan ada pembicaraan yang berbeda satu sama lain yang dikemukakan atas pandangannya sendiri, seperti penindasan yang didapatkannya. Dengan adanya perbedaan pendapat ini akan tercipta diskusi yang hangat dimana para anggota kelompok akan menganalisis segala hal yang diungkapkan oleh anggota kelompoknya.

c.Menegakkan nilai-nilai baru bagi kelompok, pada tahapan ini akan tercipta sebuah aturan atau pengertian baru yang dianggap kelompoknya “benar” meskipun itu bertentangan dengan aturan atau norma yang telah ada di masyarakat pada umumnya. Nilai-nilai baru ini sengaja diciptakan oleh anggota-anggota kelompok homoseksual untuk melegalkan apa yang dilakukannya.

d.Menghubungkan diri dengan kelompok revolusioner, menyadari akan banyak sekali perbedaan antara dirinya (kelompok homoseksual) dengan masyarakat maka bisa saja kelompok homoseksual mengisolasi kelompoknya dan hanya ingin berhubungan dengan kelompok sejenis.

Minggu, 11 September 2011

Teori Perkembangan Kelompok


Teori Perkembangan Kelompok
Pencipta dan Sejarah Teori
Teori Perkembangan Kelompok dikemukakan oleh Bennis dan Shepherd pada tahun 1956. Teori ini merupakan pengembangan atau setidaknya dipengaruhi dari apa yang telah diungkapkan oleh orang-orang sebelumnya, seperti S. Freud, Kurt Lewin (1946), Sullivan (1953), Schutz (1955) dan Carl Rogers.

Awal dari teori ini adalah dari ketidak-sengajaan Kurt Lewin pada tahun 1946 yang menemukan dasar-dasar munculnya kelompok sensitivitas. Dilanjutkan pada tahun 1960-an adanya kelompok pertemuan, dan Carl Rogers melihat adanya manfaat dari kelompok pertemuan ini, yaitu pengembangan diri. Cara ini biasa dilakukan oleh para psikolog untuk melatih pasien menemukan bagaimana dirinya sendiri. Kemudian pada tahun 1970-an, ditemukan pula bahwa kelompok pertemuan ini juga dapat mempercepat suatu kehancuran akibat dari kepemimpinan kelompok yang merusak.

Asumsi Dasar dan Uraian Teori
Asumsi dasar dari teori ini adalah proses perkembangan kelompok yang terjadi dalam interaksi antara orang-orang yang berada dalam suatu situasi latihan di sebuh kelompok. Teori Perkembangan Kelompok ini merupakan pembagian dari kelompok besar. Teori ini merupakan suatu bagian dari tindak komunikasi kelompok pertemuan.

Bennis dan Shepherd meneliti teori perkembangan kelompok ini dari sebuah pengamatan yang dilakukan pada kelompok-kelompok latihan di National Training Laboratory for Group Development di Bethel, Maine, Amerika Serikat. Para peserta kelompok dipilih dari latar belakang yang berbeda mulai dari pendidikan, sosial, dan ekonomi, begitu pula dengan kepribadiannya. 

Pada awalnya anggota kelompok satu sama lain tidak saling mengenal. Seorang pelatih memberikan tugas-tugas kepada kelompok tersebut dengan prosedur yang telah dibuat. Pertemuan antara anggota kelompok dilakukan beberapa kali dalam satu menggu dan ini dilakukan dalam beberapa minggu. Untuk mencapai tujuan dari tugas-tugas ini, yang mulanya tidak saling mengenal kini mau tidak mau harus saling berkenalan bahkan saling berinteraksi untuk dapat menyelesaikan tugas yang diberikan pelatih. 

Inilah tahapan-tahapan yang dilakukan ketika bergabung dalam suatu kelompok. Ada perkembangan atau proses yang dilewati untuk pencapaian tujuan bersama yang telah disepakati. Bennis dan Shepherd menyatakan bahwa tidak semua keompok bisa mencapai titik akhir perkembangannya.
Tujuan dari pelatihan yang dilakukan dalam sebuah kelompok, antara lain : pada tingkat individual dapat membantu peserta untuk mengembangkan motivasi dalam berinteraksi terhadap orang lain, peningkatan pemahaman terhadap situasi kelompok, peningkatan kendali terhadap komunikasi antar manusia, menambah keragaman perilaku sosial pada setiap peserta latihan; 

sedangkan pada tingkat kelompok dapat membentuk suatu komunikasi yang valid dimana setiap anngota dapat mengkomunikasikan perasaan, motivasi, keinginannya secara bebas dan tepat.
Tahapan-tahapan perkembangan kelompok yang biasanya dilalui seseorang dalam suatu kelompok, terdiri atas :

a.Tahap Otoritas, yaitu tahap di mana keraguan ketergantungan dapat dicairkan. Tahapan ini terdiri atas tiga subtahap, yaitu : tahap ketergantungan, tahap pemberontakan, dan tahap pencairan.
b.Tahap Pibadi, yaitu tahap di mana dicairkan keraguan saling ketergantungan. Tahapan ini terdiri atas tiga subtahap, yaitu : tahap harmoni, tahap identitas pribadi, dan tahap pencairan masalah.

Model Fisher


Model Fisher
Pencipta dan Sejarah Teori
Model Fisher sesuai dengan namanya bahwa teori ini dikemukakan oleh Aubrey Fisher.

Adanya teori ini dilatar-belakangi adanya pembagian dari kelompok besar. Teori ini merupakan suatu bagian dari tindak komunikasi kelompok tugas. Dalam model Fisher ini ada empat tahap yang harus dilewati seseorang dalam menjalani suatu hubungan dengan anggota kelompok.

Asumsi Dasar dan Uraian Teori
Teori ini menjelaskan bagaimana proses yang harus dilewati seseorang dalam suatu kelompok untuk menghasilkan sesuatu yang disepakati bersama antar anggota kelompok. Asumsi dasar dari teori adalah adanya tahapan-tahapan yang harus dilalui seseorang untuk menjalin hubungan dengan orang lain (anggota dalam kelompoknya). Tahapan-tahapan tersebut terdiri atas :

1.Orientasi, pada tahapan ini seorang individu akan berusaha untuk saling mengenal, saling menangkap perasaan anggota kelompoknya, dan mencoba menemukan peranan dan status. Dalam tahapan ini akan ada kecenderungan perbedaan pendapat.

2.Konflik, tahapan ini merupakan tindak lanjut dari adanya perbedaan pendapat pada tahap pertama. Dalam situasi ini terdapat peningkatan perbedaan antara satu individu dengan anggota kelompok lainnya, setiap individu berusaha mempertahankan apa yang ia inginkan.

3.Pemunculan, pada tahap ini setiap individu berusaha untuk mengurangi tingkat perbedaan pendapat. Tujuannya untuk mengurangi konflik, namun yang terjadi adalah individu sudah tidak lagi memiliki kejelasan dalam menentukkan sikap.

4.Peneguhan, tahap akhir yang dilakukan seseorang dalam kelompoknya yaitu bagaimana para anggota memperteguh konsensus kelompok. Dalam hal ini akan ada saran bagaimana penyelesaian yang baik dan akan ada keputusan dari perbedaan yang ada pada para anggota.